Minggu, 05 Mei 2013

PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERBAHASA DI SD

 
PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERBAHASA TULIS
A.     MEMBACA
1.      Hakikat Membaca
Pada hakikatnya, aktivitas membaca terdiri dari dua bagian, yaitu membaca sebagai proses dan membaca sebagai produk. Membaca sebagai proses mengacu pada aktivitas fisik dan mental. Sedangkan membaca sebagai produk mengacu pada konsekuensi dari aktivitas yang dilakukan pada saat membaca.
Proses membaca sendiri terdiri atas beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut adlah aspek sensori (kemampuan memahami simbol), aspek perseptual (kemampuan menginterprestasikan apayang dilihat sebagai simbol), aspek skema (kemampuan menghubungkan informasi tertulis dengan pengetahuan yang telah ada), aspek berpikir (kemampuan membuat inferensi dan evaluasi), aspek afektif (minat pembaca yang berpengaruh terhadap kegiatan membaca).

2.      Tujuan membaca
Setiap pembaca memahami bacaan yang dibacanya. Dengan demikian pemahaman menjadi faktor penting dalam membaca. Membaca pemahaman sebagai proses mempercayai bahwa upaya memahami bacaan sudah terjadi ketika kita belum membaca buku apa pun. Kemudian, pemahaman itu menapaki tahapan yang berbeda dan terus berubah saat baris demi baris, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf. Selanjutnya, pemahaman bacaan itu akan mencapai tahapan yang lain pula ketika kita sampai pada bagian akhir bacaan itu. Proses pemahaman terus berlangsung bahkan setelah proses membaca itu selesai.
Begitu besar peran membacauntuk menambah pengetahuan seseorang. Begitu besar pula peran orang lain dalam menyempurnakan pemahaman seseorang terhadap apa yang dibacanya. Karena itu, di kelas membaca, proses memasukkan informasi dan pengetahuan ke dalam otak siswa harus terjadi.
Untuk itu guru harus membuat perencanaan yang matang. Pembelajaran membaca harus mempunyai tujuan yang jelas. Tujuan yang dimaksud meliputi:
1)        Menikmati keindahan yang  terkandungdalam bacaan;
2)        Membaca bersuara
3)        Menggunakan strategi untuk memahami bacaan;
4)        Menggali simpanan pengetahuan atau skemata;
5)        Menghubungkan pengetahuan baru dengan skemata;
6)        Mencari informasi untuk pembuatan laporan yang akan dismpaikan baik lisan atau tertulis;
7)        Melakukan penguatan atau penolakan terhadap ramalan-ramalan siswa sebelum membaca;
8)        Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bereksperementasi
9)        Mempelajari struktur bacaan;
10)    Menjawab pertanyaan khusus yang dikembangkan oleh guru atau penulis.

3.      Teks Bacaan
a.      Pemahana kalimat
Pada saat membaca siswa dihadapkan pada kalimat majemuk yang kompleks sehingga sulit mereka memahmi. Guru hendaknya mengatasi hal tersebut dengan menyusun kalimat yang dipotong dan mencari kata kerja, serta menyuruh siswa mencari  bagian-bagian penting dan menuliskannya.
b.      Pola-pola organisasi pragraf
Susunan paragraf mengandung berbagai pola pengorganisasian, yaitu membuat daftar dari sesuatu, menerapkan secara kronologis, perbandingan, kontras, dan sebab akibat.

4.      Teknik dan Strategi Pembelajaran Membaca
Untuk meningkatkan pemahaman terhadap keseluruhan teks, biasanya guru menerapkan kegiatan prabaca, kegiatan inti membaca,dan kegiatan paskabaca.
a.      Kegiatan prabaca
Dalam kegiatan prabaca dimaksudkan untuk menggugah perilaku siswa dalam menyelesaikan masalah dan motivasi penelaahan materi.
-          Gambaran awal
Berisi informasi yang berkaitan dengan isi cerita yang akan dibaca.
-          Petunjuk melakukan antisipasi
Petunjuk semacam ini dirancang untuk menstimulasi pikiran, berisi pertanyaan-pertanyaan deklaratif, yang sebagian mungkin ada yang tidak benar.
-          Pemetaan semantik
Kegiatan memperkenalkan kosakata yang akan ditemukan dalam bacaan.
-          Menulis sebelum membaca
Menulis pengalaman pribadi yang relevan. Hal ini membantu siswa untuk merespon dan bereaksi yang lebih positif.
-          Drama atau simulator
Guru menggambarkan situasi yang dikembangkan dalam cerita. Membiarkan siswa menyelesaikan masalah sesuai kemampuan mereka.
b.      Kegiatan inti membaca
Beberapa strategi dapat digunakan yaitu:
-          Strategi metakognitif
Metakognitif berkaitan dengan pengetahuan seseorang atas penggunaan intelektual dan usaha sadarnya untuk memonitor dan mengontrol penggunaan kemampuan intelektual tersebut.
-          Cloze procedure
Meningkatkan pemahaman dengan cara menghilangkan sejumlah informasi dalam bacaan dan siswa diminta untuk mengisinya.
-          Pertanyaan pemandu
Pertanyaan pemandu sering digunakan untuk meningkatkan pemahaman dengan cara mengubah fakta menjadi pertanyaan “mengapa”.
c.       Kegiatan paskabaca
Kegiatan dan strategi setelah membaca membantu siswa mengintegrasikan informasi baru ke dalam skemata yang sudah ada. Ada beberapa kegiatan dan strategi yang dapat dilakukan oleh siswa setelah membaca, yakni:
-          Memperluas kesempatan belajar
-          Mengajukan pertanyaan
-          Mengadakan pameran visual
-          Pementasan teater aktual
-          Menceritakan kembali
-          Penerapan hasil membaca

B.      MENULIS
1.      Hakekat Menulis
Menulis merupakan kegiatanyang dilakukan seseorang untuk menghasilkan tulisan. Menulis yang akan dibicarakan dalam hal ini lebih luas pengertianyadari pada sekedar melakukan perbuatan atau melakukan tulisan.
Menghasilkan karya tulis, kemudian dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran atau diserahkan pada seseorang sebagai bukti karya ilmiah, kemudian akan dinilai, sehingga menuntut betul seorang penulis untuk memahami arti menulis. Seorang penulis yang memahami makna kata menulis akan betul-betul peduli terhadap apa yang ditulis, kekuatan tulisan dalam mempengaruhi orang lain, keaslian pikiran, dan kepiawayan penulis dalam memilih kata-kata. Penulis yang paham akan konsekkuensi akan mempertimbangkan respon jika tulisannya dibaca orang lain.
Dilihat dari prosesnya, menulis dimulai dari sesuatu yang tidak tampak sebab masih berbentuk pikiran, bersifat sangat pribadi. Jika penulis adalah seorang siswa, guru hendaknya merasakan kesulitan siswa. Guru yang memahami akan berpendapat bahwa menulis karangan itu tidak harus sekali jadi. Adakalanya sebuah kalimat bisa dibuat tetapi kalimat selanjutnya sulit dibuat. Jika ini terjadi, kita sebagai guru dapat menyarankan agar siswa mengubah arah atau tujuan tulisan.

2.      Teknik dan  Strategi Pembelajaran Menulis
a.      Pembelajaran menulis di dalam kelas
1)      Bermain-main dengan bahasa dan tulisan
2)      Kuis
3)      Memberi atau mengganti akhir cerita
4)      Menulis meniru model: copy the master
b.      Pembelajaran Menulis di luar kelas
Kegiatan yang dapat mendorong minat siswa untuk menulis adalah majalah dinding (mading). Cara lain adalah dengan membuat kegiatan kliping. Kliping memberikan bahan untuk tulisan bagi para siswa dan juga bahan untuk referensi.
















PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERBAHASA LISAN

A.       MENYIMAK
1.         Hakikat Menyimak
Menyimak dapat dipandang sebagai suatu sarana, sebagai suatu keterampilan, sebagai seni, sebagai suatu proses, sebagai suatu respon atau suatu pengalaman kreatif. Menyimak dikatakan suatu sarana sebab adanya kegiatan yang dilakukan seseorang pada waktu menyimak yang harus melalui tahap mendengar bunyi. Sebagai suatu keterampilan, menyimak bertujuan untuk berkomonikasi karena melibatkan keterampilan yang bersifat aural dan oral. Berdasarkan pandangan ini, harus dibedakan antara mendengar dan menyimak. Mendengar merupakan fase awal dari menyimak, yaitu fase pemaknaan simbol-simbol aural. Menyimak sebagai seni berarti kegiatan menyimak itu memerlukan kedisiplinan, konsentrasi, partisipasi aktif, pemahaman, dan penilaian, seperti halnya mempelajari seni musik, seni peran atau seni rupa. Sebagai suatu proses, menyimak berkaitan dengan proses keterampilan yang kompleks, yaitu keterampilan mendengarkan, memahami, menilai, dan merespon. Oleh sebab itu, menyimak harus diajarkan. Menyimak dikatakan sebagai respons, sebab respon merupakan unsur utama dalam menyimak. Penyimak dapat merespon dengan efektif jika ia memiliki pancaindra yang kucup baik dan mempunyai kemampuan menginterpretasikan pesan yang terkandung dalam tuturan yang disimaknya.

2.         Bahan Pembelajaran Menyimak
Tujuan utama menyimak, melatih siswa memahami bahasa lisan.  Oleh sebab itu pemilihan bahan harus disesuaikan dengan karakter anak SD. Pembelajaran menyimak di kelas rendah sebaiknya tidak disertai dengan menulis. Bahan simakan kelas rendah berupa perintah, pertanyaan lisan yang menghendaki jawaban lisan atau perbuatan sebaagai jawabanya.

B.        BERBICARA
1.      Hakekat berbicara
Berbicara dapat diartikan sebagai kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa untuk mengekspresikan atau menyampaikan pikiran, gagasan atau perasaan secara lisan (Brown dan Yule, 1983. Berbicara dianggap sebagai  alat manusia yang paling penting dalam kontrol sosial. Berbicara merupakan perilaku manusia yang memanfaatkan faktor fisik, psikologis, neurologist, dan linguistik secara luas.
Seseorang dapat menulis, membaca secara mandiri, menyimak siaran radio atau tv secara mandiri namun sangat jarang orang berbicara tanpa hadirnya orang kedua sebagai pemerhati atau menyimak. Oleh sebab itu Vallet (1977) berpendapat bahwa berbicara merupakan kemampuan berbahasa yang bersifat sosial.

2.      Jenis-jenis berbicara
a.      Berdasarkan tujuan
1)      Berbicara memberitahukan, melaporkan dan menginformasikan.
Berbicara untuk tujuan memberitahukan, melaporkan atau menginformasikan dilakukan jika seseorang ingin menjelaskan suatu proses.
2)      Berbicara menghibur.
Berbicara menghibur memerlukan keterampilan menarik perhatian pendengar. Suasana pembicaranya bersifat santai, penuh canda.
3)      Berbicara mengajak, membujuk, meyakinkan dan menggerakkan.
Misalnya, guru membangkitkan semangat dan gairah belajar siswa melalui nasihat-nasihat.
b.      Berdasarkan situasi
1)      Berbicara formal
Contohnya ceramah, dan wawancara.
2)      Berbicara informal
Contohnya bertelepon.
c.       Berdasarkan cara penyampaian
1)      Berbicara mendadak
Tanpa direncanakan berbicara di depan umum.
2)      Berbicara berdasarkan catatan
Pembicara menggunakan catatan kecil yang disiapkan sebelumnya serta telah menguasai materi.
3)      Berbicara berdasarkan hafalan
Pembicara menyiapkan dengan cermat dan menulis dengan lengkap. Kemudian, dihafalkannya kata demi kata kalimat demi kalimat sebelum berbicara.
4)      Berbicara berdasarkan naskah
Pembicara telah menyusun naskah pembicaraan secara tertulis dan membacakannya pada saat berbicara.
d.      Berdasarkan jumlah pendengar
1)      Berbicara antar pribadi
2)      Berbicara dalam kelompok kecil
3)      Berbicara dalam kelompok besar
Terjadi apabila pembicara menghadapi pendengar yang jumlahnya besar. Perpindahan peran dari pembicara menjadi pendengar atau sebalinya sangat kecil kemungkinan, bahkan tidak terjadi.

3.      Bahan dan strategi pembelajaran berbicara
Tujuan utama pembelajaran berbicara di SD adalah untuk melatih siswa dalam berbicara bahasa  Indonesia dengan baik dan benar. Untuk mencapai tujuan tersebut guru dapat menggunakan bahan pembelajaran membaca atau menulis, kosakata, dan sastra sebagai bahan pembelajaran berbicara. Misalkan menceritakan pengalaman yang mengesankan, menceritakan kembali cerita yang telah dibaca atau didengar, mengungkapkan pengalaman pribadi, bertanya jawab berdasarkan bacaan, bermain peran, berpidato.